Rabu, 20 November 2013

Sebelum Siapkan Uang Pesta Nikah, Dana Ini Wajib Anda Punya Lebih Dulu

Pasangan yang telah berencana menikah tentu sudah memikirkan biaya untuk akad serta resepsi. Tidak hanya itu saja, ada pula biaya jika menjalani pernikahan sesuai adat entah pemotongan hewan, membeli nama marga, atau lainnya. Di luar acara pernikahan, sebenarnya ada dana penting yang perlu disiapkan. Apa saja?

Financial Planner Indonesia, Lisa Soemarto, mengatakan bahwa dana pendidikan dan pensiun penting disiapkan sejak dini sebelum merencanakan menikah. Dana tersebut bukan membebani salah satu pihak tapi tanggung jawab diri masing-masing.

"Dana pendidikan anak dan pensiun itu idealnya disiapkan pas kita masih sendiri, jangan tergantung pasangan. Saat kita sendiri dan sudah kerja, saat itulah kita sudah bisa menyiapkannya, kalau memang sudah mampu ya," tutur Lisa saat berbincang dengan Wolipop di Pacific Place, kawasan SCBD, Jalan Jenderal Sudirman, Jakarta Selatan, Rabu (6/10/2013).

Penting! 3 Hal yang Harus Disepakati Pasangan Saat Siapkan Biaya Nikah

Ketika memutuskan untuk menikah, hal yang paling penting selain mental adalah dana. Saat menyiapkan dana ini, ada beberapa hal yang perlu Anda sepakati dengan pasangan.

Kesepakatan atau pembicaraan dari hati ke hati perlu dilakukan agar ke depannya tidak ada masalah yang timbul di antara pasangan gara-gara dana pernikahan. "Kalau sudah ada kesepakatan akan lebih mudah buat kita untuk langkah selanjutnya menentukan detail-detail tertentu," ujar Anna Surti Ariani, Psi. Lantas apa saja hal-hal yang harus disepakati itu? Berikut ini daftarnya:

1.Sumber Dana Pernikahan
Masalah siapa yang akan mengeluarkan uang untuk pernikahan atau sumber dana, sebaiknya berada di urutan pertama pembicaraan Anda dan kekasih saat membuat kesepakatan. Jika pernikahan digelar mengikuti adat pihak wanita, tak ada salahnya untuk bertanya apakah soal dana jadi tanggungjawab sepenuhnya pihak Anda atau ada tambahan uang dari pihak kekasih. Pembicaraan mengenai sumber dana ini harus dilakukan dengan jelas, jangan sampai belakangan tiba-tiba muncul tambahan permintaan yang membuat biaya membengkak.

"Apakah betul-betul dari pihak wanita saja, atau berapa persen pihak pria menanggung, atau misalnya, oke pihak wanita saja, tapi ketika pihak pria minta ini-itu, berarti biaya tersebut dari pihak mereka," ucap Anna Surti Ariani, Psi atau akrab disapa Nina.

Saat membicarakan sumber dana ini, pembicaraan tentunya tak hanya melibatkan Anda dan pasangan. Hal itu karena umumnya orangtua memiliki peran dalam pembiayaan pernikahan. Apakah biaya tersebut sepenuhnya menjadi tanggungjawab orangtua? Di sinilah diskusi menjadi penting.

"Kembali ke kesepakatan. Misalnya dana akad pasangan yang menanggung, sementara orangtua tolong biayai resepsi. Atau kalau ada ngunduh mantu, itu semuanya jadi tanggungjawab pihak pria," jelas Nina.

Sementara itu menurut penasihat keuangan dan investasi Lisa Soemarto, di zaman sekarang ini, sudah bukan kewajiban lagi untuk orangtua menyiapkan dana pernikahan anaknya. "Contohnya orangtua sudah pensiun, mungkin uang mereka untuk menjalani pensiun saja nggak cukup dan anak-anaknya sudah kerja, sudah bagus kerjanya, nggak fair juga kan kalau terlalu mengharapkan orangtua. Jadi kalau memang anak sudah memiliki kemampuan, sebaiknya menyiapkan dana sendiri," urai wanita yang menjabat sebagai Senior Partner and Advicer di Akbar's Financial Clinic itu saat berbincang dengan Wolipop di Pacific Place, kawasan SCBD, Jl. Jend. Sudirman, Jakarta Selatan, Rabu (6/11/2013)

Hindari Bertengkar dengan Kekasih Gara-gara Dana Pernikahan, Ini Tipsnya

Dana pernikahan umumnya dibicarakan antar dua keluarga besar. Akan tetapi, tidak semua pihak memiliki kesepakatan yang sama saat menentukan rincian biaya menikah. Ketidaksepakatan tersebut bisa menimbulkan pertengkaran antara Anda dan pasangan.

Untuk itu, ada cara tepat membicarakan biaya pernikahan seperti yang diungkapkan oleh Psikolog Anna Surti Ariani, S.Psi.M.Si. Psikolog yang akrab disapa Nina itu menjelaskan, menentukan dana pernikahan perlu mencapai kesepakatan antara keluarga inti masing-masing. Jika salah satu pihak memiliki keberatan dalam proses kesepakatan bersama, Nina menyarankan sebaiknya Anda serta pasangan menjadi 'jembatan' antar kedua keluarga besar.

"Misalnya si pihak laki-laki ada yang nggak setuju dengan rencana pihak perempuan, nah itu caranya terkadang nggak bisa diomongin secara langsung. Jadi si laki-laki ini menyampaikan ke perempuan, nah perempuannya yang menyampaikan ke keluarganya. Itu jauh lebih halus daripada langsung dibicarakan antar dua keluarga," ujar Nina kepada Wolipop di Gedung Graha CIMB Niaga, kawasan SCBD, Sudirman, Jakarta Selatan, Senin (4/10/2013).

Selain menjadi 'jembatan' antara dua keluarga, Anda dan pasangan juga harus bersikap asertif saat mengemukakan pendapat yang berbeda. Sikap asertif berarti mengemukakan semua pikiran Anda secara terbuka tanpa menyakiti orang lain. Cara yang asertif adalah dengan menunjukkan contoh fakta mengenai pemikiran Anda, entah berupa angka atau fakta lainnya.

Sabtu, 09 November 2013

Biaya untuk Menikah Kurang, Bolehkah Berhutang?

Hampir semua pasangan ingin menggelar resepsi pernikahan secara maksimal karena merasa menikah itu seumur hidup sekali. Banyak dari mereka yang akhirnya berlebihan budget sehingga harus berhutang demi pesta pernikahan. Tidak sedikit hutang dari resepsi itu sendiri yang mungkin memakan waktu hingga bertahun-tahun untuk melunasinya. Sebenarnya, bolehkah berhutang untuk menikah? Ini kata perencana keuangan ternama Indonesia, Lisa Soemarto.

"Kalau saya nggak menyarankan, karena yang namanya menikah bukan pesta pernikahan saja, nanti mungkin mau honeymoon, mungkin nanti mau menyiapkan rumah entah direnovasi atau beli barang baru, merencanakan punya anak, biaya melahirkan, pendidikan, jadi masih banyak biaya-biaya lain," tutur Lisa saat berbincang dengan Wolipop di Pacific Place, kawasan SCBD, Jakarta Selatan, Rabu (6/10/2013).

Trainer International Association of Registered Financial Consultans (IARFC) itu juga mengatakan, bila saat menikah sudah berhutang tentu setelahnya akan sibuk melunasinya. Hal ini bisa mempengaruhi keuangan Anda dan pasangan saat ingin menyiapkan kebutuhan lain seperti pendidikan anak, liburan, atau pensiun.

Oleh karena itu, sebaiknya buat dana pernikahan sejak dini dibandingkan harus meminjam uang ketika menikah sehingga harus menyicil setelahnya. Meskipun Anda dan pasangan merencanakan pernikahan mendadak dan tidak sempat mengumpulkan dana, Lisa menyarankan agar tidak perlu memaksakan diri. Hindari berhutang dan gelar acara sesuai budget saat ini.

Biaya Pernikahan Kewajiban Orangtua, Ahh Itu Dulu

Banyak pasangan yang merasa memiliki cukup uang untuk membiayai pernikahan mereka sendiri. Meskipun demikian, orangtua tentu ingin terlibat dalam membiayai pernikahan anaknya. Sebenarnya tanggungan siapakah biaya pernikahan ini?

"Orangtua pasti ingin (membiayainya). Kalau muslim, ada suatu kewajiban menikahkan anak dan menyiapkan dana menikah," tutur Perencana Keuangan Lisa Soemarto saat berbincang dengan Wolipop di di Pacific Place, kawasan SCBD, Jalan Jenderal Sudirman, Jakarta Selatan, Rabu (6/10/2013).

Akan tetapi, Anda perlu melihat bagaimana keuangan orangtua saat ini. Misalnya saja orangtua sudah pensiun dan dana yang mereka miliki tidak cukup bila seluruhnya dipakai untuk biaya pernikahan. Belum ditambah adik masih butuh biaya kuliah, sementara Anda serta pasangan sudah memiliki pekerjaan dengan penghasilan besar.

Jika kondisi keluarga tidak memungkinkan, hindari memaksakan mereka agar tetap mewujudkan impian pernikahan Anda. "Nggak fair juga kan kalau terlalu mengharapkan orangtua. Jadi kalau memang anak sudah memiliki kemampuan uang sendiri, sebaiknya menyiapkan dana sendiri," tambah Senior Partner dan Advisor di Akbar's Financial Check-up itu.

Mau Kumpulkan Biaya untuk Nikah, Jangan Menabung. Ini Alasannya!

Pernikahan bukan soal cinta atau prinsip semata, tapi juga biaya-biaya. Sebagian pasangan yang sudah siap menikah menyiapkan dana pesta pernikahannya dengan menabung sejak jauh hari, namun Financial Planner Indonesia, Lisa Soemarto, sama sekali tidak menyarankan menabung untuk biaya menikah. Menurutnya, menabung tidak bisa menghasilkan apa pun jika dilakukan dalam waktu jangka panjang. Mengapa demikian?

Lisa menjelaskan, saat Anda mulai mengumpulkan dana pernikahan sejak tahun ini tapi berencana naik ke pelaminan tiga tahun mendatang tentu harganya akan jauh berbeda. Misalnya saja target menggelar pesta pernikahan Rp 50 juta. Biaya pernikahan Rp 50 juta sekarang dengan tiga tahun mendatang tentu akan berbeda karena adanya inflasi.

"Yang jelas masuknya bukan tabungan dalam perencanaan keuangan karena kalau cuma satu tahun nggak akan cukup. Kita harus memperhitungkan gedung dan makanan sudah naik berapa kali lipat karena ada inflasi, jadi kita sudah capek-capek ngumpulin uang, tiga tahun kemudian nggak sampai karena harganya sudah Rp 150 juta mungkin. Akhirnya kita cuma punya uang Rp 50 juta itu kalau tabungan karena tabungan tidak menghasilkan apa-apa," jelas Lisa saat diwawancarai Wolipop di Pacific Place, kawasan SCBD, Jakarta Selatan, Rabu (6/10/2013).

Salah satu pemilik kafe Steakology ini pun memberikan solusi, sebaiknya mengalokasikan dana menikah ke investasi daripada menabung. Produk investasinya juga tergantung jangka waktu akan digunakannya dana tersebut. Jika Anda sudah berencana menikah kurang dari tiga tahun lagi, pilih emas sebagai investasi. Emas memiliki risiko yang lebih rendah daripada produk investasi lainnya.

Isagenix