Selasa, 20 September 2011

Rumah Tangga Nabi : Tauladan Suci

Ketika kita menempuh bahtera rumah tangga, ketika kita sedang menjalankan perintah Allah dan Rasul-Nya, kita dianjurkan untuk menengok kembali kecintaan kita kepada
keluarga Nabi. Dalam memperkuat kecintaan kita kepada keluarga Nabi di dalam mengayuh bahtera keluarga, kita diwajibkan mencontoh perilaku kehidupan keluarga Rasulullah, baik perilaku terhadap istri maupun anak.Dalam memperlakukan istrinya, Rasulullah senantiasa menghormati dan menjaga perasaan istrinya melebihi suami-suami yang lainnya.

Suatu saat, ketika Rasulullah hendak melaksanakan salat malam, beliau dekati istrinya Aisyah. Aisyah berkata: "Di tengah malam beliau mendekatiku dan ketika kulitnya bersentuhan dengan kulitku, beliau berbisik, 'Wahai Aisyah, izinkan aku untuk beribadat kepada Robb-ku'." Kita bayangkan betapa besar penghormatan Rasul kepada istrinya sampai ketika beliau hendak melakukan salat malam, beliau terlebih dahulu meminta
izin kepada istrinya pada tengah malam, di saat istrinya membutuhkannya. Dalam permintaan izin Rasulullah itulah, tergambar kecintaan dan penghormatan terhadap istrinya.

Nabi adalah sosok yang sangat sabar dalam memperlakukan istrinya. Hal ini terlihat ketika suatu hari ada salah seorang istri-nya datang dengan membawa makanan untuk dikirim kepada Rasulullah yang sedang tinggal di rumah Aisyah. Aisyah dengan sengaja menjatuhkan kiriman makanan itu hingga piringnya pecah dan makanannya jatuh berserakan. Rasulullah hanya mengatakan: "Wahai Aisyah, kifaratnya adalah mengganti makanan itu dengan makanan yang sama."

Rasulullah mengecam suami yang suka memukuli istrinya. Rasulullah berkata: "Aku heran melihat suami yang menyiksa istrinya, padahal dia lebih patut disiksa oleh Allah."

Nabi pun mengecam suami yang menghinakan istrinya, tidak menghargainya, tidak mengajaknya bicara, dan tidak mempertimbangkan istrinya dalam mengambil keputusan. Nabi bersabda, "Tidak akan pernah memuliakan wanita kecuali lelaki yang mulia dan tidak akan pernah menghinakan wanita kecuali lelaki yang hina." Karena itu, marilah kita berusaha menjadi suami yang mulia yang menempatkan istri pada tempat yang mulia.

Dalam Islam, salah satu ibadat yang paling besar nilainya adalah berkhidmat kepada istri. Rasulullah bersabda, "Duduknya seorang lelaki dengan istrinya kemudian membahagiakannya, pahalanya sama dengan orang yang itikaf di mesjidku." Kita dapat saksikan, kita akan memperoleh pahala yang sama seperti orang yang itikaf di Mesjid Nabawi kalau kita duduk bersama istri dan berusaha membahagiakan, memberikan ketenteraman, dan kenyamanan padanya.

Begitu pula bagi para istri. Mereka harus menjadi seorang istri seperti Khadijah al-Kubra. Khadijah adalah sosok istri yang sangat dicintai oleh suaminya. Selama menikah dengannya,
Rasulullah tidak pernah memikirkan wanita lain di samping Khadijah. Rasulullah hidup dalam suasana yang penuh dengan kecintaan dan kasih sayang.

Cinta kasih Nabi terhadap Khadijah tergambar dalam riwayat berikut ini: Setelah Khadijah meninggal dunia, Rasulullah menikah dengan Aisyah. Suatu hari, Rasulullah sedang berada di depan rumah. Tiba-tiba Rasulullah meninggalkan Aisyah, menghampiri seorang perempuan. Rasulullah memanggilnya dan menyuruh perempuan itu duduk di hadapannya kemudian mengajaknya bicara. Aisyah bertanya, "Siapakah perempuan tua ini?" Rasul menjawab, "Inilah sahabat Khadijah dulu." Lalu Aisyah berkata, "Engkau sebut-sebut juga Khadijah, padahal Allah telah menggantikannya dengan istri yang lebih baik."

Ketika itu "marah" lah Rasul, lalu beliau berkata, "Demi Allah, tidak ada yang dapat menggantikan Khadijah. Dialah yang memberikan kepadaku kebahagiaan ketika orang
mencelakakanku. Dialah yang menghiburku dalam penderitaan ketika semua orang membenciku. Dialah yang memberikan seluruh hartanya kepadaku ketika semua orang menahan pemberiannya. Dan dialah yang menganugerahkan kepadaku anak ketika istri-istri yang lain tidak memberikannya." Mendengar itu Aisyah tidak dapat memberikan jawaban. Hadits ini diriwayatkan dalam Shahih Bukhari dan Shahih Muslim.

Dalam ucapan Rasulullah itu, selain terkandung kecintaan Rasul terhadap Khadijah, juga terkandung kebaktian Khadijah terhadap suaminya. Khadijahlah yang menghibur suaminya
ketika dalam perjuangan dilanda berbagai penderitaan. Khadijahlah yang mengorbankan seluruh hartanya ketika suaminya memerlukan. Khadijahlah yang mendampingi suaminya dalam suka dan duka. Sehingga, Rasul berkata, "Tidak ada seorang pun yang dapat menggantikan Khadijah."

Kepada para istri, jadilah seperti Khadijah yang setiap saat rela mengorbankan apa pun demi kebahagiaan suami. Yang di saat-saat suami ditimpa duka dan kesusahan siap berdiri di sampingnya, memberikan hiburan dan kebahagiaan kepadanya dengan seluruh jiwa dan raga.

Kebaktian pada suami di dalam Islam dianggap ibadah yang utama. Oleh sebab itu, hormatilah suami. Berikan kepadanya penghormatan yang sepenuhnya dan berikanlah kecintaan yang sepenuhnya. Insya Allah, Allah akan memberkati keluarga yang seperti demikian. (KH Djalaluddin Rahmat)

Sumber :
http://bekalpernikahan.blogdrive.com/

Mempersiapkan Pernikahan Barokah menuju keluarga sakinah

Pernikahan merupakan bagian dari tanda-tanda kekuasaan Allah, yaitu Allah menjodohkan kita dengan pasangan kita. Hikmah di balik Bukti kebesaran Allah ini adalah : Agar kita merasa tentram kepada pasangan kita, dan agar dia pun merasa tenteram kepada kita.
Pernikahan adalah proses yang menghalalkan ikatannya..

Dan..Sakinah adalah puncak kedamaian sebuah pernikahan. Untuk mencapainya, banyak sekali ujian yang harus dilalui,.. karena setiap dari kita, dan pasangan kita pun adalah manusia.. yang masing-masing memiliki potensi hina dan mulia..

Dari berbagai ujian pernikahan yang ada,
berdasarkan hasil survey Ada dua penyebab besar terjadinya kegoyahan dalam rumah tangga, yakni : Perselingkuhan dan Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT). Dalam setiap bulannya, di atas dua ratus pasangan keluarga di kota bandung menjalani persidangan perceraian.. Gugatan-gugatan cerai yang diajukan, dinilai bukan hal yang sangat substansial… masih sangat mungkin untuk terjadi kembali damai dan rukun (Islah)..

Ujian terberat rumah tangga ternyata ada pada pasangan hidup.. yaitu saat kita teruji oleh belahan jiwa kita sendiri
Permasalahan ini muncul dari komunikasi yang tidak terjalin dengan baik.. komunikasi tersebut bermula dari latar belakang mental yang berbeda.. Masing-masing tidak merasakan hikmah pernikahan: timbulnya rasa “saling menentramkan”.. Sungguh besar godaan syetan terhadap para pasangan suami-istri, sehingga saat para pasangan tidak berpegang teguh pada Al-Qur’an dan sunnah, dan tidak saling menguatkan, saat itulah keimanan mulai goyah dan tidak khidmat dalam menjalani kehidupan rumah tangga. Dari sinilah benih-benih bencana besar rumah tangga muncul. Benih-benih itu mulai ditanam seperti: sikap-sikap mengabaikan, tidak peduli, tidak ramah, serta po
tensi kasih sayang yang tidak diekspresikan secara optimal..

Hal yang menjadi pelajaran berharga adalah,.. Untuk mencegah hal ini, pernikahan harus dibangun di atas visi-misi bersama yang kuat dan kokoh..sehingga, saat sedikit retak saja mulai muncul.. keduanya saling mengingatkan bahwa ada tujuan besar bersama yang akan dicapai.. akankah hancur oleh permasalahan kecil? Investasi keimanan juga sangat penting dan harus dipupuk bersama..

Tiga hal yang jika dimiliki oleh seorang wanita (istri), maka syurga ada di tangannya..
- Mampu menghormati dan ta’at kepada suaminya
- Mampu melayani dan memuaskan kebutuhan-kebutuhan dasar seorang suami
- Menentramkan dengan segala yang ada pada suaminya

Begitulah seharusnya,.. setiap pasangan menyadari dan melaksanakan posisinya masing-masing dalam rumah tangga. Kesalahan yang sering muncul adalah.. saat masing-masing kehilangan orientasi akan tugasnya dalam rumahtangga. Seorang suami tentunya menjadi seorang imam, pemegang kendali dan harus dapat mengambil keputusan… dengan potensi yang Allah berikan, seorang suami lah seharusnya yang memikul penuh kebutuhan rumahtangga, jika diibaratkan.. dalam sepakbola, posisinya sebagai “striker” atau “penyerang”.. dia yang berlari ke luar gawang, melawan tantangan di luar. Sedangkan seorang istri, berikanlah ia ruang yang luas untuk banyak menghabiskan waktu di rumah…mengurusi mengolah nafkah yang telah diperoleh sang suami, mengurus dan mendidik anak dengan sebaik mungkin, mempersiapkan segala hal yang terbaik di rumah untuk suami dan anak.. jika diibaratkan, seorang istri sebagai “penjaga gawang”. Ya, dia harus kuat dan ekstra bersabar.. jangan sampai serangan-serangan zaman “goal” ke rumah karena kelalaian seorang istri, apalagi terhadap anak.. (narkoba, seks bebas, dan sebagainya). Saat seorang istri ingin dan harus berkarya pun, sesuaikan dengan kebutuhan dan kewajiban rumah, karena ternyata karir terbesar dan terhormat seorang wanita adalah menjadi seorang Ibu.. dan inilah pahala surga terbesar baginya.. Ada sebuah Hadist,.. bahwa Rasulullah sallallohu’alaihi wassalam pernah bersabda “wanita yang banyak menghabiskan waktu di rumah, menjaga keluarganya, maka kelak akan sangat dekat denganku di surga
’’

Pernikahan sakinah ternyata dibangun jauh dari sebelum kita menikah… Bahkan bermula dari pendidikan orangtua terhadap anak-anaknya. Orangtua yang mendidik anak laki-lakinya untuk menjadi seorang imam yang tangguh, dan mendidik anak perempuannya untuk menjadi jiwa yang kuat dan sabar.. Ya, ini seperti siklus kehidupan.. akan berputar seperti ini… dan segala pembentukan karakter dan akhlak bermula dari sini.., pembentukan jiwa-jiwa pahlawan, pemimpin, yang kelak akan menjadi generasi penerus peradaban ini, semua bermula dari ‘keluarga’. Maka,.. tidak heran saat kelurga dan wanita menjadi ‘proyek’ para penghancur peradaban… Semoga ini menjadi kesadaran kolektif untuk mulai membenahi diri kita masing-masing.. dan pernikahan adalah proyek besar, maka tidak sembarangan saat kita mempersiapkannya. Karena yang biasanya terjadi, energi calon pasangan dan keluarga saat akan menikah habis untuk memikirkan persiapan prosesi pernikahan hari “H”(walimah), tetapi melupakan hal-hal dasar dan jangka panjang seperti “visi-misi pernikahan”, komitmen setelah menikah, orientasi dan tugas masing-masing… dan sebagainya..

tentang mencari calon pasangan yang tepat.

Tentunya, harus sesuai hadist..pilihlah pasangan berdasarkan 4 hal: kecantikan, harta, keturunan (keluarga), dan akhlak (keislaman).. dan utamakanlah keislaman (agamanya), sesungguhnya itu sudah dapat mencakup semuanya.. Ya, cari yang paling sholeh! Kesholehan tersebut harus teruji dan terbukti (harus kita lihat sendiri), Kita dapat melihat dari kekuatannya dalam beribadah.. dan kekuatan ibadah (spiritualnya) dapat kita lihat aplikasinya, ia mengamalkan kesholehannya.. dapat dilihat dari tanggung jawabnya.. Dan yang terakhir adalah,.. bagaimana cara ia memuliakan kita dan orangtua kita..


Sumber :
http://azzahrawedding.blogspot.com/2010/04/mempersiapkan-pernikahan-barokah-menuju.html

Isagenix