Di awal pernikahan, adaptasi merupakan hal yang penting untuk dilakukan.
Namun sebagaimana yang diketahui, menyatukan dua sosok manusia berbeda
budaya, visi, misi dan pikiran tentu tidak mudah.
Tahukah Anda bahwa ada beberapa hal yang membuat adaptasi berjalan kurang lancar. Anda pun perlu mengetahuinya sehingga bisa menghindari hal tersebut. Demikian hal-hal yang perlu Anda waspadai, seperti dikutip dari Helium.
1. Berprasangka buruk
Anda tak pernah berbicara dari hati ke hati dengan pasangan. Sebaliknya Anda malah berprasangka buruk padanya. Hal ini akan semakin buruk jika Anda dan pasangan memiliki budaya yang berbeda. Misalnya suami Anda terbiasa berbicara dengan suara keras, sedangkan Anda cenderung memiliki intonasi bicara yang lembut. Suara keras suami akan selalu Anda anggap sebagai kemarahan, padahal tak selalu begitu. Untuk itu bukalah hati Anda untuk berkomunikasi dengan pasangan. Yang Anda harus lakukan adalah melihat sisi positif dari suami, bukannya berprasangka buruk.
2. Campur tangan orang tua
Campur tangan orang tua tak selalu berakibat baik bagi pernikahan Anda. Apalagi jika orang tua justru membuat perseteruan Anda dan suami semakin 'panas'. Sebisa mungkin selesaikan masalah Anda dan suami berdua saja, tanpa campur tangan siapapun. Karena Anda berdua adalah orang yang paling mengenal jalannya pernikahan.
3. Kita' bukan 'Saya'
Kini Anda harus memulai untuk mengubah sudut pandang. Segala sesuatu harus dipikirkan berdasarkan kepentingan bersama. Tak ada lagi sudut pandang 'Saya', yang ada hanya 'Kita'. Sayangnya, banyak pasangan yang masih belum terbiasa sehingga cenderung sering mementingkan keinginan pribadi daripada kepentingan bersama.
Tahukah Anda bahwa ada beberapa hal yang membuat adaptasi berjalan kurang lancar. Anda pun perlu mengetahuinya sehingga bisa menghindari hal tersebut. Demikian hal-hal yang perlu Anda waspadai, seperti dikutip dari Helium.
1. Berprasangka buruk
Anda tak pernah berbicara dari hati ke hati dengan pasangan. Sebaliknya Anda malah berprasangka buruk padanya. Hal ini akan semakin buruk jika Anda dan pasangan memiliki budaya yang berbeda. Misalnya suami Anda terbiasa berbicara dengan suara keras, sedangkan Anda cenderung memiliki intonasi bicara yang lembut. Suara keras suami akan selalu Anda anggap sebagai kemarahan, padahal tak selalu begitu. Untuk itu bukalah hati Anda untuk berkomunikasi dengan pasangan. Yang Anda harus lakukan adalah melihat sisi positif dari suami, bukannya berprasangka buruk.
2. Campur tangan orang tua
Campur tangan orang tua tak selalu berakibat baik bagi pernikahan Anda. Apalagi jika orang tua justru membuat perseteruan Anda dan suami semakin 'panas'. Sebisa mungkin selesaikan masalah Anda dan suami berdua saja, tanpa campur tangan siapapun. Karena Anda berdua adalah orang yang paling mengenal jalannya pernikahan.
3. Kita' bukan 'Saya'
Kini Anda harus memulai untuk mengubah sudut pandang. Segala sesuatu harus dipikirkan berdasarkan kepentingan bersama. Tak ada lagi sudut pandang 'Saya', yang ada hanya 'Kita'. Sayangnya, banyak pasangan yang masih belum terbiasa sehingga cenderung sering mementingkan keinginan pribadi daripada kepentingan bersama.