Kamis, 18 Oktober 2012

Baru Menikah & Sulit Adaptasi? Ini Penyebabnya

Di awal pernikahan, adaptasi merupakan hal yang penting untuk dilakukan. Namun sebagaimana yang diketahui, menyatukan dua sosok manusia berbeda budaya, visi, misi dan pikiran tentu tidak mudah.

Tahukah Anda bahwa ada beberapa hal yang membuat adaptasi berjalan kurang lancar. Anda pun perlu mengetahuinya sehingga bisa menghindari hal tersebut. Demikian hal-hal yang perlu Anda waspadai, seperti dikutip dari Helium.

1. Berprasangka buruk
Anda tak pernah berbicara dari hati ke hati dengan pasangan. Sebaliknya Anda malah berprasangka buruk padanya. Hal ini akan semakin buruk jika Anda dan pasangan memiliki budaya yang berbeda. Misalnya suami Anda terbiasa berbicara dengan suara keras, sedangkan Anda cenderung memiliki intonasi bicara yang lembut. Suara keras suami akan selalu Anda anggap sebagai kemarahan, padahal tak selalu begitu. Untuk itu bukalah hati Anda untuk berkomunikasi dengan pasangan. Yang Anda harus lakukan adalah melihat sisi positif dari suami, bukannya berprasangka buruk.

2. Campur tangan orang tua
Campur tangan orang tua tak selalu berakibat baik bagi pernikahan Anda. Apalagi jika orang tua justru membuat perseteruan Anda dan suami semakin 'panas'. Sebisa mungkin selesaikan masalah Anda dan suami berdua saja, tanpa campur tangan siapapun. Karena Anda berdua adalah orang yang paling mengenal jalannya pernikahan.

3. Kita' bukan 'Saya'
Kini Anda harus memulai untuk mengubah sudut pandang. Segala sesuatu harus dipikirkan berdasarkan kepentingan bersama. Tak ada lagi sudut pandang 'Saya', yang ada hanya 'Kita'. Sayangnya, banyak pasangan yang masih belum terbiasa sehingga cenderung sering mementingkan keinginan pribadi daripada kepentingan bersama.

10 Tips Menguatkan Ikatan Pernikahan

Kunci menjaga kebahagiaan pernikahan bukanlah asmara, tapi hal sederhana yang selalu Anda lakukan — atau jatuh cinta lagi dengan pasangan Anda. (Oleh Holly Corbett, REDBOOK)

1. Jangan pernah mengubah pasangan
Mungkin Anda berharap dia melipat kaus kakinya, atau ngobrol dengan teman Anda tanpa diminta. Namun, ketidakmampuannya merapikan rambut saat di toilet mungkin adalah kepribadian yang membuat Anda tertarik kepadanya untuk pertama kali.

”Salah satu hal menyenangkan yang bisa kita lihat dari pasangan bahagia adalah mereka saling mengerti perbedaan masing-masing, dan tidak mencoba mengubah kepribadian masing-masing,”  kata Darren Wilk, seorang Gottman Couples Therapist bersertifikat yang membuka praktik pribadi di Vancouver, Kanada.

“Daripada berusaha mengubah kepribadian pasangan, lebih baik fokus pada kelebihan masing-masing.”

Untuk lebih memahami kelebihan masing-masing, mungkin Anda dapat mengikuti kuis cepat tentang kepribadian pasangan Anda.

2. Ungkapkan sesuatu dengan baik

Apakah Anda ingin dia lebih sering mencuci pakaian atau lebih memperhatikan anak-anak? Pasangan Anda akan mengubah sikap mereka jika dia merasa nyaman. “Lakukan itu seperti Anda sedang memberi bantuan. Lakukan seperti ‘ini caranya yang bisa membuat aku bahagia,’ karena semua orang ingin membuat pasangan mereka bahagia,” kata Wilk.

“Ketika Anda mengungkapkan kebutuhan Anda, ungkapkan seperti Anda memang benar-benar menginginkan dan bukan sebaliknya.” Jangan mengatakan, “Saya benci ketika kamu harus melakukan semua hal dengan terjadwal,” cobalah mengatakan, “Aku akan senang jika menjalani hari secara spontan.”

3. Berikan apresiasi

Memberikan apresiasi kepada pasangan Anda itu penting, namun terkadang sejumlah pasangan sering lupa melakukannya. “Penelitian yang dilakukan pakar hubungan Gottman menunjukkan, dalam kehidupan sehari-hari, pasangan yang bahagia memiliki 20 momen positif, seperti saling memandang, memuji, atau memberikan sentuhan sayang,” kata Wilk.

Isagenix