Minggu, 18 September 2011

10 Masalah Utama dalam Pernikahan

Pernikahan adalah sebuah institusi. Ketika argumen demi argumen mulai merupakan sebagian besar bentuk komunikasi yang Anda dan dia langsungkan di rumah maupun di luar rumah, tak heran jika Anda dan pasangan mulai merasakan adanya keresahan dalam rumah tangga.

Tak ada satu pernikahan di dunia ini yang sempurna. Bahkan kebanyakan penyebab ketidaksempurnaannya pun sama. Daftar masalah utama dalam sebuah pernikahan tak begitu panjang, dan kebanyakan di antaranya masih bisa diatasi. Apa sajakah permasalahan yang paling sering mengganggu pernikahan? Berikut 10 di antaranya yang ditemui oleh situs askmen.com:

10. Frekuensi seks

Kebanyakan pasangan yang sudah menikah secara periodik berhenti berhubungan intim karena beberapa hal, di antaranya; penolakan, kelelahan, stres, dan lainnya. Ironisnya, melakukan hubungan seksual adalah cara yang menyenangkan untuk melepaskan stres yang menghambat Anda untuk melakukan hubungan seks. Jika kekurangan aktivitas bercinta menambah stres, maka hal tersebut adalah inti masalahnya.

9. Pembagian peran dalam rumah tangga
Zaman dulu, pada saat orangtua kita masih menjadi pasangan baru menikah, mungkin saja masih berada dalam stigma, pria harus bekerja mencari nafkah sementara wanitanya di rumah dan mengurus rumah. Padahal, pada kenyataannya, pria pun seharusnya juga memiliki tugas kerja di rumah juga.

8. Tidak merawat diri

Hal ini sering terjadi terutama pada wanita, meski pada pria pun tak sedikit terjadi. Ada banyak penyebabnya. Cobalah untuk menghargai tubuh Anda dengan selalu merawatnya.

7. Tak ingin memiliki anak

Banyak pria dan wanita melihat pernikahan adalah sebuah konsekuensi pernikahan. Keputusan untuk memiliki anak atau tidak merupakan sebuah keputusan yang besar. Wajar jika seseorang merasa tak siap untuk memiliki anak.

6. Perbedaan dalam mendidik anak

Ketika Anda sudah memiliki keturunan, akan ada perbedaan antara Anda dan pasangan dalam keinginan cara mendidik anak. Usahakan untuk berada dalam koridor yang sama dengan pasangan untuk hal mendidik anak agar si anak tidak bingung harus mengikuti peraturan siapa. Namun, secara umum, asalkan orangtuanya selalu menyayanginya, anak akan tumbuh baik.

5. Ketidakmampuan untuk memiliki keturunan

Ketidaksuburan masih dipandang sebagai hal yang tabu di masyarakat kita. Padahal, hal tersebut bukanlah salah siapa-siapa. Tak seperti permasalahan lainnya yang ada dalam daftar ini, hal yang satu ini tak bisa diubah. Akan lebih baik jika sebuah pasangan sudah membicarakan hal seputar anak dan kemungkinan-kemungkinan yang bisa terjadi di sekitarnya sebelum berupaya untuk memiliki anak agar lebih mudah untuk menghadapi apa pun yang ada di depan.

4. Mertua dan ipar
Anda pasti sudah sering mendengar, bahwa mertua bisa jadi pengganggu yang menyebabkan runyamnya sebuah rumah tangga. Begitu halnya dengan ulah ipar. Bisa jadi karena perbedaan cara pandang, norma, dan nilai yang berbeda bisa membuat kita menilai keluarga si pasangan sedikit di luar batas kewajaran. Yang terpenting adalah bagaimana kita bisa mentolerir kebiasaan dan adab mertua atau ipar yang amat bertolak belakang tersebut. Tentunya dibutuhkan kesepakatan dengan pasangan pula untuk menjalaninya.

3. Stres seputar rumah

Menikah bisa berarti memiliki tempat tinggal sendiri. Bisa dengan membeli rumah baru atau menyewa tempat tinggal. Dengan tinggal di tempat sendiri berarti akan ada stres dan tekanan baru. Yang pertama, membeli rumah itu tidak murah, selain harus membayar cicilan, harus memikirkan pula pajak bangunan, dan biaya perawatannya. Sebelum memutuskan untuk membeli rumah, pikirkan apakah Anda benar-benar sanggup membiayainya.

2. Stres finansial
Sumber permasalahan finansial bisa datang dari banyak hal. Hal finansial bisa jadi merupakan masalah terutama yang diributkan pasangan. Satu cara untuk menyelesaikannya adalah dengan membicarakannya. Jujurlah dengan pasangan mengenai masalah keuangan yang dihadapi dan seberapa banyak aset yang dimiliki. Jangan pula menutupi pengeluaran yang telah dilakukan.

1. B-O-S-A-N

Melalui setiap saat bersama orang yang sama seumur hidup bisa jadi hal yang menakutkan untuk sebagian besar orang. Tak heran jika salah satu dari Anda atau malah keduanya mengalami kebosanan. Sudah bisa dipastikan, dalam sebuah pernikahan pasti akan terbentur dengan rasa bosan. Namun, jangan pandang kebosanan akan rutinitas menjadi suatu momok. Lakukan sesuatu untuk membuatnya kembali bergairah. Misal, travelling bersama, atau melakukan kegiatan bersama pasangan, atau mencoba hal-hal baru dalam kehidupan bercinta.

Sumber :
http://female.kompas.com/read/2010/05/31/2350329/10.Masalah.Utama.dalam.Pernikahan

Sumber Pertengkaran Sebelum Naik Pelaminan

MENIKAH? Yang segera terbayang adalah pesta meriah dengan dana yang tak sedikit, memilih dan membeli baju pengantin, mengundang teman-teman dan sanak keluarga.

Tapi tahukah Anda, mengurus perencanaan pesta pernikahan merupakan masa percobaan dalam memasuki hidup perkawinan?

Biasanya hal-hal yang dipermasalahkan merupakan petunjuk awal perselisihan yang akan terjadi di masa depan. Apa saja gerangan? Tapi jangan khawatir, selalu ada cara untuk mengatasinya.

1. SOAL KELUARGA
Daftar keluarganya yang harus diundang setiap hari semakin panjang, padahal tidak satu pun dari mereka yang peduli apalagi berniat ikut membantu baik secara moril maupun materil. Perselisihan ini merupakan jenis pertengkaran yang bakal sering terjadi di masa mendatang.

Nah, sebaiknya bersikaplah tegas. Perlihatkan kepada calon suami biaya yang akan dikeluarkan. Tunjukkan pula daftar keluarga Anda dan dia yang sekiranya akan diundang lalu bersama-sama menentukan mana yang perlu dicoret dari daftar demi penghematan.
Jangan lupa, daftar yang Anda siapkan pada kenyataannya dapat lebih banyak dan masalah ini sering merupakan masalah yang tidak tampak.

2. KETERLIBATAN MEMPELAI PRIA
Yang seriang terjadi, si Dia malah terkesan tak peduli. Tapi jangan takut, Anda tetap bisa berharap lebih. Sebagai lelaki, biasanya nereka tidak terlalu mahfum masalah dekorasi ataupun model mutakhir untuk kebaya pengantin. Tetapi hal ini tidak berarti Anda kemudian tak melibatkannya.

Coba tanyakan apa yang disukainya dan dukung dia untuk ikut terlibat. Pastikan tidak ada masalah-masalah khusus seperti misalnya dia merasa orang tua Anda atau orang tuanya kelewat campur tangan dengan urusan rencana pernikahan.

3. UANG
Anda sudah mengeluarkan sejumlah besar uang untuk membeli gaun pengantin sementara dia ingin berlibur ke Bali atau ke luar negeri. Masalah uang memang sensitif. Coba tanya pada diri sendiri, mengapa Anda ingin mengeluarkan sebegitu banyak uang untuk gaun pengantin? Hal ini perlu disepakati bersama. Paling tidak, bulan madu dapat dinikmati oleh Anda berdua. Duduk dan bicarakan dengan serius mengenai dana yang akan dikeluarkan untuk persiapan pernikahan ini.

4. ADAT ISTIADAT
"Sudahlah, kita enggak usah pakai upacara adat segala. Kelewat njlimet, capek," begitu biasanya komentar calon mempelai pria. Yang pertama harus dilakukan adalah memastikan calon pengantin pria mengerti apa yang diharapkan dari dirinya. Biasanya mereka tidak tahu bahwa Anda ingin mereka mempelajari tradisi keluarga/daerah asal Anda serta tata cara yang dianut.

Topik ini dapat membuat hubungan Anda berdua menjadi lebih dekat, lo. Bila dibicarakan dengan cara yang tenang, damai, dan peka, pembahasannya akan menjadi kesempatan untuk mengenal lebih dekat tradisi masing-masing.

5. ESTETIKA
Dia menyukai warna hijau tua sementara Anda lebih suka warna hijau muda. Dia menginginkan ada lilin-liiln di atas meja makan, sementara Anda tidak. Susah, kan? Padahal, Anda ingin si dia lebih terlibat. Masalahnya, pada saat dia mengatakan pendapatnya, timbul lagi masalah baru.

Sebaiknyam Anda berdua perlu menentukan prioritas, saling dapat menerima pendapat masing-masing, dan berkompromi. Sangat bijaksana bila Anda berdua sudah mulai belajar bagaimana caranya menentukan prioritas serta berkompromi karena kedua hal ini akan selalu diperlukan di dalam kehidupan perkawinan Anda berdua kelak.

6. TEMPAT
Masalah di mana acara akan diselenggarakan, juga kerap menimbulkan perdebatan dan diakhiri dengan pertengkaran. "Kenapa, sih, harus diadakan di Jakarta? Saya rasa harusnya di Surabaya karena sebagian besar keluarga saya di sana," begitu keluh seorang calon mempelai wanita.

Agar masalah tak berlarut-larut, tanyakan kepadanya alasan mengapa dia memilih Jakarta dan bukan Surabaya. Apakah karena teman-teman Anda dan dia sebagian besar berada di Jakarta? Apakah dia lebih mementingkan teman-teman daripada keluarga? Mungkin jalan keluarnya, adakan pesta pernikahan yang resmi di Surabaya lalu Anda dapat mengadakan pesta khusus untuk teman-teman Anda dan dia di Jakarta.

7. CALON MEMPELAI WANITA SUPERSIBUK

Entah karena kelewat bahagia dan antusias, calon pengantin perempuan tiba-tiba jadi supersibuk menyiapkan segala sesuatunya dan sang kekasih merasa "ditinggal".
Bila pesta pernikahan menjadi lebih penting daripada hubungan Anda dan dia, Anda harus waspada. Wajar bila Anda menginginkan pesta yang meriah tetapi jangan sampai mengorbankan hubungan dengan si dia. Lagipula, untuk apa? Yang penting adalah masa depan Anda berdua, bukan?

8. TUNANGAN ATAU TIDAK
Bertunangan dapat merupakan aset utama bagi Anda dan dia. Bertunangan merupakan cara lain untuk membicarakan masalah-masalah penting sebelum menikah, baik masalah keuangan maupun masalah-masalah lainnya.

9. MASA LALU
Dia tetap berteman baik dengan mantannya dan ingin mengundangnya ke acara pernikahan Anda berdua. Jelas, Anda tak setuju.

Tapi kalau dipikir ulang, mengapa Anda harus pusing-pusing dengan masalah itu? Toh, dia sudah memilih Anda sebagai pendamping hidupnya. Jangan kacaukan perasaan Anda dengan rasa cemburu yang tidak perlu. Tunjukkan sikap yang bersahabat dengan mantannya, kenali dia, dan siapa tahu Anda akan menyukainya.

Bila Anda merasa tidak nyaman dan tidak aman, mungkin Anda harus mempertimbangkan kembali pernikahan Anda. Mungkin Anda belum siap. Anda berdua perlu membicarakan, sejauh mana keterlibatan mantan Anda dan mantannya di dalam kehidupan Anda berdua.

Sumber: Dokumen NOVA

Isagenix