Selasa, 01 November 2011

Menghadapi Tantangan di Awal Pernikahan

Kata-kata "And they live happily ever after" hanya ada di dongeng-dongeng putri yang akhirnya hidup bahagia bersama pangerannya. Di kehidupan nyata? Tidak semudah itu. Ada banyak tantangan yang tak akan berhenti datang di kehidupan pernikahan. Termasuk menghadapi pasangan.

Meski Anda dan dia sudah berpacaran bertahun-tahun, hal ini tidak menjamin akan kelanggengan dan kebahagiaan kehidupan pernikahan. Menurut Adriana S. Ginanjar, psikolog dari Universitas Indonesia dalam buku Mari Bicara, tantangan sering muncul dalam awal pernikahan. Masalah terumum adalah dalam penyesuaian diri terhadap peran baru sebagai suami dan istri. Bukan hal mudah, karena akan ada perbedaan dari kebiasaan sehari-hari, harapan terhadap pernikahan, cara berkomunikasi, serta nilai-nilai kehidupan.

Dalam film-film, sering dikatakan, kekuatan cinta akan mengalahkan segala rintangan. Namun di kenyataan, itu tidak akan cukup. Pasangan yang tak siap menghadapi adaptasi di awal pernikahan seringkali memandang konflik sebagai sinyal bahwa cinta telah padam dan pernikahan sudah di ambang kehancuran. Perbedaan yang dulu dipandang sebagai hal unik mulai menjadi biang keladi.

Adriana mengatakan, salah satu kunci keberhasilan penyesuaian diri adalah menyadari perbedaan di antara keduanya merupakan hal normal dan penting bagi pemenuhan kebutuhan masing-masing. Saat memilih pasangan di masa pacaran, pasti terjadi pemilihan kualitas yang tak Anda miliki agar merasa lebih penuh.

Maka, supaya tidak memperbesar masalah, jangan lari dari hal itu, tetapi pegang dalam pikiran, bahwa tak akan terdapat kesamaan visi jika sama-sama bersikeras. Disarankan untuk sama-sama memperbesar toleransi dan penerimaan. Bila pasangan berusaha saling menerima perbedaan dan akhirnya menghargai keunikan masing-masing, maka pernikahan akan berjalan harmonis.

Inspirasi dan strategi beradaptasi di awal pernikahan dari buku Mari Bicara:

* Proses adaptasi sebagai pasangan baru selalu diwarnai konflik dan perbedaan pendapat. Jangan memasang target tinggi, dan bersikaplah santai dalam menghadapi masalah.

* Pikirkan dan selalu memusatkan pikiran pada hal positif pasangan. Kurangi membesarkan perbedaan apalagi mengubah pasangan supaya sesuai gambaran Anda.

* Diskusikan pandangan dan nilai-nilai untuk menjalani pernikahan. Mulai dari tugas-tugas suami dan istri, rencana punya anak, pengelolaan keuangan, pengembangan karier, kehidupan beragama, juga hubungan dengan kerabat.

* Jalin hubungan baik dengan keluarga pasangan. Ini dimaksudkan untuk lebih mengenal si dia lebih dalam.

* Ungkapkan cinta pada pasangan lewat beragam hal. Dari kecupan, kata-kata, sentuhan, memberikan bantuan, dan kejutan kecil lain yang menyenangkan.

* Hindari menjelek-jelekkan keluarga pasangan atau menantang untuk bercerai bila sedang terbawa emosi. Dua hal ini menimbulkan sakit hati mendalam.

* Bersabarlah meski perbedaan dan prosesnya berat. Jangan lupa untuk menghargai usaha pasangan.

Sumber :
http://myvipdb.blogspot.com/2010/10/menghadapi-tantangan-di-awal-pernikahan.html

Persiapan Menjelang Hari H (pernikahan)

Inilah hari yang dinanti-nanti oleh setiap pasangan. Mengikrarkan diri dalam persatuan sehidup semati yang membutuhkan banyak persiapan, baik lahir maupun batin.

Tiap pasangan selalu ingin dapat berbagi kebahagiaan ini bersama kerabat dan handai taulan. Di Indonesia, sudah jadi sebuah kebiasaan untuk menyelenggarakan resepsi pernikahan, yang jumlah undangannya bahkan bisa mencapai ribuan orang.

Tak masalah mau menghelat acara sedemikian besar atau dengan cara yang lebih sederhana. Yang utama adalah persiapan matang agar seluruh rangkaian acara berjalan lancar.

Perencanaan bisa dimulai sejak setahun sebelumnya. Namun, sebulan sebelum hari H, segera cek ulang kesiapan seluruh elemen, mulai dari gedung, catering, dekorasi, fotografer, hingga elemen-elemen detail lainnya, seperti suvenir, buku tamu, penerima tamu, seragam, perlengkapan acara adat, dan masih banyak lagi.

Jangan lupa untuk segera memilih dan mencetak foto pre-wedding jauh-jauh hari. Komunikasikanlah hal ini pada fotografer, apakah Anda sendiri yang akan melakukannya atau dari pihak fotografer. Tak sedikit yang baru melakukannya detik-detik menjelang pernikahan, yang justru membuat calon penganti semakin sibuk menjelang hari H.

Tentukan pula warna dan bentuk pigura yang akan digunakan, sesuaikan dengan nuansa dan foto Anda agar terlihat selaras.

Yang tak kalah penting adalah menentukan orang-orang untuk bertanggung jawab terhadap suatu bidang, demi memudahkan koordinasi panitia. Jabarkan kembali tugas yang harus dilakukan dan tilik kembali apa saja yang menjadi kendala untuk dicari solusinya.

Hal ini pun berlaku jika menggunakan jasa wedding organizer. Lakukan cek ulang keseluruhan jadwal acara dan kesiapan setiap detailnya. Meski Anda telah menyerahkan seluruh tanggung jawab pada mereka, sebaiknya Anda tetap menjaga kelancaran komunikasi dan supervisi.

Namun yang tak kalah penting adalah menyiapkan kebugaran tubuh, mengingat acara di hari H umumnya padat. Tak ada salahnya mengambil cuti kerja tiga hari sebelum hari H untuk memaksimalkan waktu istirahat. Manfaatkan waktu ini dengan melakukan spa, lulur, atau totok tubuh yang dapat membantu merelaksasikan tubuh dan pikiran.

Selanjutnya, fokus kembali pada persiapan batin. Bagian ini justru yang menjadi peranan utama untuk melompat ke kehidupan yang lebih matang.

Sumber :
http://myvipdb.blogspot.com/2010/07/persiapan-menjelang-hari-h-pernikahan.html

Isagenix