KIAT-KIAT MEMPERERAT CINTA SUAMI ISTRI
Ada
kejadian, seorang laki-laki sebelum menikah menginginkan istri yang
cantik parasnya dan beberapa kriteria lainnya. Tetapi pada saat
pernikahan, dia mendapatkan istrinya sangat jauh dari kriteria yang ia
tetapkan. Subhanallah! Inilah jodoh, walaupun sudah berusaha keras,
tetapi jika Allah menghendaki lain, semua akan terjadi. Pada awalnya ia
terkejut karena istrinya ternyata kurang cantik, padahal sebelumnya
sudah nazhar (melihat) calon istrinya tersebut. Sampai ayah dari pihak
suami menganjurkan anaknya untuk menceraikan istrinya tersebut. Tetapi
kemudian ia bersabar. Dan ternyata ia mendapati istrinya tersebut
sebagai wanita yang shalihah, rajin shalat, taat kepada orang tuanya,
taat kepada suaminya, selalu menyenangkan suami, juga rajin shalat
malam.
Pada akhirnya, setelah sekian lama bergaul, sang suami
ini merasa benar-benar puas dengan istrinya. Bahkan ia berpikir,
lama-kelamaan istrinya bertambah cantik, dan ia sangat mencintai serta
menyayanginya. Karena kesabaranlah Allah menumbuhkan cinta dan
ketentraman. Ternyata faktor fisik tidaklah begitu pokok dalam
menentukan kebahagiaan dan keharmonisan rumah tangga, walaupun bisa juga
ikut berperan menentukan.
Berikut ini kami bawakan kiat-kiat
praktis sebagai ikhtiar merekatkan cinta kasih antara suami istri,
sehingga keharmonisan bisa tercipta.
Pertama. Saling memberi hadiah
Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassalam telah bersabda:
“Saling memberi hadiahlah kalian, niscaya kalian akan saling cinta
mencintai.” (HR. Bukhari dlm Adabul Mufrad, dihasankan oleh Syaikh al
Albani)
Memberi hadiah merupakan salah satu bentuk perhatian
seorang suami kepada istrinya, atau istri kepada suaminya. Terlebih bagi
istri, hadiah dari suami mempunyai nilai yang sangat mengesankan.
Hadiah tidak harus mahal, tetapi sebagai simbol perhatian suami kepada
istri.
Seorang suami yang ketika pulang membawa sekedar
oleh-oleh kesukaan istrinya, tentu akan membuat sang istri senang dan
merasa mendapat perhatian. Dan seorang suami, semestinya lebih mengerti
apa yang lebih disenangi oleh istrinya. Oleh karena itu, para suami
hendaklah menunjukkan perhatian kepada istri, diungkapkan dengan memberi
hadiah meski sederhana.
Kedua. Mengkhususkan waktu untuk duduk bersama
Jangan sampai antara suami istri sibuk dengan urusan masing-masing,
dan tidak ada waktu untuk duduk bersama. Ada pertanyaan yang diajukan
kepada Syaikh bin Baaz. Ada seorang pemuda tidak memperlakukan istri
dengan baik. Yang menjadi penyebabnya, karena ia sibuk menghabiskan
waktunya untuk berbagai pekerjaan yang berhubungan dengan studi dan
lainnya, sehingga meninggalkan istri dan anak-anaknya dalam waktu lama.
Masalah ini ditanyakan kepada Syaikh, apakah diperbolehkan sibuk
menuntut ilmu dan sibuk beramal dengan resiko mengambil waktu yang
seharusnya dikhususkan untuk isteri?
Syaikh bin Bazz menjawab
pertanyaan ini. Beliau menyatakan, tidak ragu lagi, bahwa wajib atas
suami untuk memperlakukan istrinya dengan baik berdasarkan firman Allah:
“Pergaulilah mereka dengan baik.” (QS. An Nisa’:19)
Juga sebagaimana sabda Nabi Shalallahu ‘Alaihi Wassalam kepada
Abdullah bin ‘Amr bin Ash, yaitu manakal sahabat ini sibuk dengan shalat
malam dan sibuk dengan puasa, sehingga lupa dan lalai terhadap
istrinya, maka Nabi Shalallahu ‘Alaihi Wassalam berkata:
“Puasalah dan berbukalah. Tidur dan bangunlah. Puasalah sebulan selama
tiga hari, karena sesungguhnya kebaikan itu memiliki sepuluh kali lipat.
Sesungguhnya engkau memiliki kewajiban atas dirimu. Dirimu sendiri
memiliki hak dan engkau juga mempunyai kewajiban terhadap isterimu, juga
kepada tamumu. Maka, berikanlah haknya setiap orang yang memiliki hak.”
(Muttafaqun ‘alaihi).
Banyak hadits yang menunjukkan adanya
kewajiabn agar suami memperlakukan isteri dengan baik. Oleh karena itu,
para pemuda dan para suami hendaklah memperlakukan isteri dengan baik,
berlemah lembut sesuai dengan kemampuan. Apabila memungkinkan untuk
belajar dan menyelesaikan tugas-tugasnya di rumah, maka lakukanlah di
rumah, sehingga disamping dia mendapatkan ilmu dan menyelesaikan tugas,
dia juga dapat membuat isteri dan anak-anaknya senang. Kesimpulannya,
adalah disyari’atkan atas suami mengkhususkan waktu-waktu tertentu,
meluangkan waktu untuk isterinya, agar sang isteri merasa tentram,
memperlakukan isterinya dengan baik; terlebih lagi apabila tidak
memiliki anak.
Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassalam bersabda:
“Sebaik-baik kalian adalah yang terbaik di antara kalian terhadap
keluarganya. Dan saya adalah orang yang terbaik di antara kalian
terhadap keluargaku.”
Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassalam juga bersabda:
“Orang yang paling sempurna imannya adalah yang tebaik akhlaknya di
antara mereka. Dan sebaik-baik kalian adalah yang terbaik terhadap
isteri-isteri kalian.” (HR. Tirmidzi)
Sebaliknya, seorang
istri juga disyari’atkan untuk membantu suaminya, misalnya menyelesaikan
tugas-tugas studi ataupun tugas kantor. Hendaklah dia bersabar apabila
suaminya memiliki kekurangan karena kesibukannya, sehingga kurang
memberikan waktu yang cukup kepada isterinya. Berdasarkan firman Allah,
hendaklah antara suami dan istri saling bekerjasama :
“Tolong menolonglah kalian di atas kebaikan dan takwa.” (QS. Al Maidah :2)
Juga berdasarkan keumuman sabda Nabi Shalallahu ‘Alaihi Wassalam:
“Allah akan selalu menolong hamba-Nya selama hamba-Nya itu menolong
saudaranya.” (Muttafaqun ‘alaihi, diterjemahkan dari buku Fatawa
Islamiyyah)
Nasihat Syaikh bin Baaz tersebut ditujukan kepada
kedua belah pihak. Kepada suami hendaklah benar-benar tidak sampai
melalaikan, dan kepada istri pun untuk bisa bersabar dan memahami
apabila suaminya sibuk bukan untuk hal-hal yang tidak bermanfaat. Untuk
para isteri, bisa juga mengoreksi diri mereka. Mungkin diantara sebab
suami tidak kerasan di rumah karena memiliki isteri yang sering marah,
selalu bermuka masam dan ketus apabila berbicara.
Ketiga. Menampakkan wajah yang ceria
Di antara cara untuk mempererat cinta kasih, hendaklah menampakkan
wajah yang ceria. Ungkapan dengan bahasa wajah, mempunyai pengaruh yang
besar dalam kegembiraan dan kesedihan seseorang. Seorang isteri akan
senang jika suaminya berwajah ceria, tidak cemberut. Secara umum Nabi
Shalallahu ‘Alaihi Wassalam bersabda:
“Sedikit pun janganlah
engkau menganggap remeh perbuatan baik, meskipun ketika berjumpa dengan
saudaramu engkau menampakkan wajah ceria.” (HR. Muslim)
Begitu
pula sebaliknya, ketika suami datang, seorang isteri jangan sampai
menunjukkan wajah cemberut atau marah. Meskipun demikian, hendaknya
seorang suami juga bisa memahami kondisi isteri secara kejiwaan.
Misalnya, isteri yang sedang haidh atau nifas, terkadang melakukan
tindakan yang menjengkelkan. Maka seorang suami hendaklah bersabar. Ada
pertanyaan dari seorangb isteri yang disampaiakan kepada Syaikh bin
Baaz, sebagai berikut:
Suami saya-semoga Allah memaafkan dia-,
meskipun dia berpegang teguh dengan agama dan memiliki akhlak yang
tinggi serta takut kepada Allah, tetapi dia tidak memiliki perhatian
kepada saya sedikitpun. Jka di rumah, ia selalu berwajah cemberut,
sempit dadanya dan terkadang dia mengatakan bahwa sayalah penyebab
masalahnya. Tetapi Allah lah yang mengetahui bahwa
saya-alhamdulillah-telah melaksanakan hak-haknya. Yakni menjalankan
kewajiban saya sebagai isteri. Saya berusaha semaksimal mungkin dapat
memberikan ketenangan kepada suami dan menjauhkan segala hal yang
membuatnya tidak suka. Saya selalu sabar atas tindakan-tindakannya
terhadap saya.
Setiap saya bertanya sesuatu kepadanya, dia
selalu marah, dan dia mengatakan bahwa ucapan saya tidak bermanfaat dan
kampungan. Padahal perlu diketahui, jika kepada teman-temannya, suami
saya tersebut termasuk murah senyum. Sedangkan terhadap saya, ia tidak
pernah tersenyum; yang ada hanyalah celaan dan perlakuan buruk. Hal ini
menyakitkan dan saya merasa sering tersiksa dengan perbuatannya. Saya
ragu-ragu dan beberapa kali berpikir untuk meninggalkan rumah.
Wahai Syaikh, apabila saya meninggalkan rumah dan mendidik sendiri
anak-anak saya dan berusaha mencari pekerjaan untuk membiayai anak-anak
saya sendiri, apakah saya berdosa? Ataukah saya harus tetap tinggal
bersama suami dalam keadaan seperti ini, (yaitu) jarang berbicara dengan
suami, (ia) tidak bekerja sama dan tidak merasakan problem saya ini?
Di jawab oleh Syaikh bin Baaz: “Tidak diragukan lagi, bahwa kewajiban
atas suami isteri ialah bergaul dengan baik dan saling menampakkan wajah
penuh dengan kecintaan. Dan hendaklah berakhlak dengan akhlak yang
mulia, (yakni) dengan menampakkan wajah ceria, berdasarkan firman Allah:
“Pergaulilah mereka dengan baik.” (QS. An Nisa:19)
Juga dalam surat Al Baqarah ayat 228:
“Dan para wanita mempunyai hak yang seimbang dengan kewajibannya
menurut cara yang ma’ruf, akan tetapi, para suami mempunyai satu
tingkatan kelebihan daripada isteri.” (QS. Al Baqarah :228)
Arti kelebihan disini, secara umum laki-laki lebih unggul daripada
wanita. Tetapi nilai-nilai yang ada pada setiap individu di sisi Allah,
tidak berarti laki-laki pasti derajatnya lebih tinggi. Sesungguhnya yang
paling mulia diantara kalian di sisi Allah adalah yang paling bertakwa.
Dan berdasarkan sabda Nabi Shalallahu ‘Alaihi Wassalam:
“Kebaikan itu adalah akhlak yang baik.” (HR. Muslim)
Dan berdasarkan sabda Nabi Shalallahu ‘Alaihi Wassalam:
“Sedikitpun janganlah engkau menganggap remeh perbuatan baik, meskipun
ketika berjumpa dengan saudaramu engkau menampakkan wajah ceria.” (HR.
Muslim)
Juga berdasarkan sabda Nabi Shalallahu ‘Alaihi Wassalam:
“Orang yang paling sempurna imannya adalah yang terbaik akhlaknya di
antara mereka. Dan sebaik-baik kalian adalah yang terbaik terhadap
isteri-isteri kalian.” (HR. Tirmidzi)
Ini semua menunjukkan,
bahwa motivasi berakhlak yang baik dan menampakkan wajah ceria pada saat
bertemu serta bergaul dengan baik kepada kaum Muslimin, berlaku secara
umum; terlebih lagi kepada suami atau isteri dan kerabat. Oleh karena
itu, engkau telah berbuat baik dalam hal kesabaran dan ketabahan atas
penderitaanmu, yaitu menghadapi kekasaran dan keburukan suamimu. Saya
berwasiat kepada dirimu untuk terus meningkatkan kesabaran dan tidak
meninggalkan rumah di karenakan hal itu. Insya Allah akan mendatangkan
kebaikan yang banyak. Dan akibat yang baik, insya Allah diberikan kepada
orang-orang yang sabar. Banyak ayat yang menunjukkan, barangsiapa yang
bertakwa dan bersabar, maka sesungguhnya balasan yang baik itu bagi
orang-orang yang bertakwa. Dan sesungguhnya Allah akan memberi ganjaran
yang besar tanpa hisab kepada orang-orang yang sabar.
Tidak
ada halangan dan rintangan untuk bercanda dan bergurau, serta mengajak
bicara suami dengan ucapan-ucapan yang dapat melunakkan hatinya, dan
yang dapat menyebabkan lapang dadanya dan menumbuhkan kesadaran akan
hak-hakmu. Tinggalkanlah tuntutan-tuntutan kebutuhan dunia (yang tidak
pokok) selama sang suami melaksanakan kewajiban dengan memberikan nafkah
dari kebutuhan-kebutuhan pokok, sehingga ia menjadi lapang dada dan
hatinya tenang. Engkau akan merasakan balasan yang baik, insya Allah.
Semoga Allah memberikan taufik kepada dirimu untuk mendapatkan kebaikan
dan memperbaiki keadaan suamimu. Semoga Allah membimbingnya kepada
kebaikan dan memperbaiki akhlaknya. Semoga Allah membimbingnya untuk
dapat bermuka ceria dan melaksanakan kewajiban-kewajibannya kepada
isterinya dengan baik. Sesungguhnya, Allah adalah sebaik-baik yang
diminta, dan Dia adalah pemberi hidayah kepada jalan yang lurus.
(Dinukil dari buku Fatawa Islamiyyah).
Ini menunjukkan, bahwa
seorang wanita diperbolehkan untuk mengeluh dan menyampaikan problemnya
kepada orang yang alim, atau orang yang dianggap bisa menyelesaikan
masalahnya. Hal ini tidak sama dengan sebagian wanita yang sering, atau
suka menceritakan rahasia rumah tangganya, termasuk kelemahan dan
keburukan suaminya kepada orang lain, tanpa bermaksud menyelesaikan
masalahnya.
Sehubungan dengan permasalahan ini, Syaikh
Utsaimin mengatakan, bahwa apa yang disampaikan oleh sebagian wanita
yang menceritakan keadaan rumah tangganya kepada kerabatnya, bisa jadi
(kepada) orang tua isteri atau kakak perempuannya, atau kerabat yang
lainnya, bahkan kepada teman-temannya, (hukumnya) adalah diharamkan.
Tidak halal bagi seorang wanita membuka rahasia rumah tangganya dan
keadaan suaminya kepada seorangpun. Karena seorang wanita yang shalihah
adalah yang bisa menjaga dan memelihara kedudukanmartabat suaminya. Nabi
Shalallahu ‘Alaihi Wassalam telah memberitakan, seburuk-buruk manusia
kedudukannya disisi Allah pada hari Kiamat ialah seorang laki-laki yang
suka menceritakan keburukan isterinya atau seorang wanita yang
menceritakan keburukan suaminya.
Meski demikian, jangan
dipahami bahwa secara mutlak seorang wanita tidak boleh menceritakan
keburukan seorang suami. Karena, pada masa Nabi Shalallahu ‘Alaihi
Wassalam pun ada seorang wanita yang datang kepada Rasulullah Shalallahu
‘Alaihi Wassalam dan berkata: “Ya, Rasulullah. Suami saya adalah orang
yang kikir, tidak memberi nafkah yang cukup bagi saya. Bolehkah saya
mengambil darinya tanpa sepengetahuannya untuk sekedar mencukupi
kebutuhan saya dan anak saya?”
Mendengar penuturan orang ini, Nabi Shalallahu ‘Alaihi Wassalam menjawab:
“Ambillah nominal yang mencukupi kebutuhanmu dan anakmu.” (Muttafaqun ‘alaih)
Keempat. Memberikan penghormatan dengan hangat kepada pasangannya
Memberikan penghormatan dengan hangat kepada pasangannya, baik ketika
hendak pergi keluar rumah ataupun ketika pulang. Penghormatan itu
hendaklah dilakukan dengan mesra. Dalam beberapa hadits diriwayatkan,
ketika hendak pergi shalat, Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassalam
mencium isterinya tanpa berwudhu lagi dan langsung shalat. Ini
menunjukkan, bahwa mencium isteri dapat mempererat hubungan antara suami
isteri, meluluhkan kebekuan ataupun kekakuan antara suami isteri.
Tentunya dengan melihat situasi, jangan dilakukan di hadapan anak-anak.
Perbuatan sebagian orang ketika seorang isteri menjemput suaminya yang
datang dari luar kota atau dari luar negeri, ia mencium pipi kanan dan
pipi kiri di tempat umum. Demikian ini tidak tepat. Memberikan
penghormatan dengan hangat tidak mesti dengan mencium pasangannya.
Misalnya, seorang suami dapat memanggil isterinya dengan baik, tidak
menjelek-jelekkan keluarganya, tidak menegur isterinya dihadapan
anak-anak mereka. Atau seorang isteri, bila melakukan penghormatan
dengan menyambut kedatangan suaminya di depan pintu. Apabila suami
hendak bepergian, isteri menyiapkan pakaian yang telah disetrika dan
dimasukkannya ke dalam tas dengan rapi.
Suami hendaknya
menghormati isterinya dengan mendengarkan ucapan isteri secara seksama.
Sebab terkadang, ada sebagian suami, jika isterinya berbicara, ia justru
sibuk dengan handphonenya mengirim sms atau sambl membaca Koran. Dia
tidak serius mendengarkan ucapan isterinya. Dan jika menanggapinya,
hanya dengan kata-kata singkat. Jika isteri mengeluh, suami mengatakan
“hal seperti ini saja dipikirkan!”
Meskipun sepele atau
ringan, tetapi hendaklah suami menanggapinya dengan serius, karena bagi
isteri mungkin merupakan masalah yang besar dan berat.
Kelima. Hendaklah memuji pasangannya
Di antara kebutuhan manusia adalah keinginan untuk di puji- dalam
batas- yang wajar. Dalam masalah pujian ini, para ulama telah
menjelaskan, bahwa pujian diperbolehkan atau bahkan dianjurkan dengan
syarat-syarat: untuk memberikan motivasi, pujian itu diungkapkan dengan
jujur dan tulus, dan pujian itu tidak menyebabkan orang yang dipuji
menjadi sombong atau lupa diri.
Abu Bakar As Siddiq
radhiallahu amhu pernah di puji, dan dia berdoa kepada Allah: “Ya Allah,
janganlah Engkau hukum aku dengan apa yang mereka ucapkan. Jangan
jadikan dosa bagiku dengan pujian mereka, jangan timbulkan sifat
sombong. Jadikanlah aku lebih baik dari apa yang mereka sangka, dan
ampunilah aku atas perbuatan-perbuatan dosa yang mereka tidak ketahui.”
Perkataan ini juga di ucapkan oleh Syaikh Al Albani ketika beliau di
puji-puji oleh seseorang dihadapan manusia. Beliau rahimahullah menangis
dan mengucapkan perkataan Abu Bakar tersebut serta mengatakan: “Saya
ini hanyalah penuntut ilmu saja”.
Seorang isteri senang pujian
dari suaminya, khususnya dihadapan orang lain, seperti keluarga suami
atau isteri. Dia tidak suka jika suami menyebutkan aibnya, khususnya
dihadapan orang lain. Jika masakan isteri kurang sedap jangan dicela.
Keenam. Bersama-sama melakukan tugas yang ringan
Di antara kesalahan sebagian suami ialah, mereka menolak untuk
melakukan sebagian tugas di rumah. Mereka mempunyai anggapan, jika
melakukan tugas di rumah, berarti mengurangi kedudukannya, menurunkan
atau menjatuhkan kewibawaannya di hadapan sang isteri. Pendapat ini
tidak benar.
Nabi Shalallahu ‘Alaihi Wassalam melakukan
tugas-tugas di rumah, seperti menjahit pakaiannya sendiri, memperbaiki
sandalnya dan melakukan tugas-tugas di rumah. Diriwayatkan oleh Imam
Ahmad dalam Musnadnya dan terdapat dalam Jami’ush Shaghir. Terlebih lagi
dalam keadaan darurat, seperti isteri sedang sakit setelah melahirkan.
Terkadang isteri dalam keadaan repot, maka suami bisa meringankan beban
isteri dengan memandikan anak atau menyuapi anak-anaknya. Hal ini
disamping menyenangkan isteri, juga dapat menguatkan ikatan yang lebih
erat lagi antara ayah dan anak-anaknya.
Ketujuh. Ucapan yang baik
Kalimat yang baik adalah kalimat-kalimat yang menyenangkan. Hendaklah
menghindari kalimat-kalimat yang tidak menyenangkan, bahkan menyakitkan.
Seorang suami yang menegur isterinya karena tidak berhias, tidak
mempercantik diri dengan celak dimata, harus dengan ucapa yang baik.
(Nasihat untuk akhwat yg berkeluarga atau ibu-ibu. Hendaknya wanita
mempercantik diri dan berhias untuk suaminya. Yang terjadi, umumnya
berdandan dan mempercantik diri kalau mau keluar rumah, atau kalau ada
walimah, misalnya. Sedangkan di rumah, ia enggan mempercantik diri dan
tampil seadanya. Padahal berdandan dan mempercantik diri untuk keluar
rumah hukumnya haram.)
Misalnya dengan perkataan “Mengapa
engkau tidak memakai celak?” Isteri menjawab dengan kalimat yang
menyenangkan: “Kalau aku memakai celak, akan mengganggu mataku untuk
melihat wajahmu”.
Perkataan yang demikian menunjukkan ungkapan
perasaan cinta isteri kepada suami. Ketika ditegur, ia menjawab dengan
kalimat yang menyenangkan. Berbeda dengan kasus lain. Saat suami isteri
berjalan-jalan di bawah bulan pernama, suami bertanya:”Tahukah engkau
bulan purnama di atas?” Mendengar pertanyaan ini, sang isteri
menjawab:”Apakah engkau lihat aku buta?”
Kedelapan. Perlu berekreasi berdua tanpa membawa anak
Rutinitas pekerjaan suami di luar rumah dan pekerjaan isteri di rumah
membuat suasana menjadi keruh. Sekali-kali diperlukan suasana lain
dengan cara pergi berdua tanpa membawa anak. Hal ini sangat penting,
karena bisa memperbaharui cinta suami isteri. Kita mempunyai anak,
lantas bagaimana caranya? Ini memang sebuah problem. Kita cari
solusinya, jangan menyerah begitu saja.
Bukan berarti setelah
mempunyai anak banyak tidak bisa pergi berdua. Tidak! kita bisa meminta
tolong kepada saudara, kerabat ataupun tetangga untuk menjaga anak-anak,
lalu kita dapat pergi bersilaturahmi atau belanja ke toko dan lain
sebagainya. Kemudian pada kesempatan lainnya, kita pergi berekreasi
membawa isteri dan anak-anak.
Kesembilan. Hendaklah memiliki rasa empati pada pasangannya
Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassalam bersabda:
“Perumpamaan kaum mukminan antara satu dengan yang lainnya itu seperti
satu tubuh. Apabila ada satu anggota tubuh yang sakit, maka anggota
tubuh yang lain pun ikut merasakannya sebagai orang yang tidak dapat
tidur dan orang yang terkena penyakit demam.” (HR. Muslim)
Ini
berlaku secara umum kepada semua kaum muslimin. Rasa empati harus ada.
Yaitu merasakan apa yang dirasakan oleh orang lain, termasuk kepada
isteri atau suami. Jangan sampai suami sakit, terbaring ditempat tidur,
isteri tertawa-tawa disampingnya, bergurau, bercanda. Begitu pula
sebaliknya, jangan sampai karena kesibukan, suami kemudian kurang
merasakan apa yang dirasakan oleh isteri.
Kesepuluh. Perlu adanya keterbukaan
Keterbukaan antara suami dan isteri sangat penting. Di antara problem
yang timbul di keluarga, lantaran antara suami dan isteri masing-masing
menutup diri, tidak terbuka menyampaikan problemnya kepada pasangannya.
Yang akhirnya kian menumpuk. Pada gilirannya menjadi lebih besar, sampai
akhirnya meledak.
Inilah sepuluh tips untuk merekatkan
hubungan suami isteri, sehingga biduk rumah tangga tetap harmonis dan
tentram. Semoga bermanfaat, menjadi bekal keharmonisan keluarga.
Sumber :
http://www.facebook.com/khusus.muslimah/posts/573350669352910
Tidak ada komentar:
Posting Komentar